Senin, 02 Februari 2009

Bisnis Beternak Kelinci

Kelinci kini tak hanya menjadi korban percobaan para ilmuwan atau sekadar hewan peliharaan anak-anak. Hewan yang dijadikan logo majalah Playboy itu juga telah menjadi salah satu ladang usaha yang menjanjikan keuntungan menantang. Sebab, daging kelinci bisa diolah menjadi santapan lezat yang kian digemari masyarakat. 

Berjalan-jalanlah ke daerah Lembang, Jawa Barat, atau ke beberapa lokasi wisata di Jawa Timur seperti Sengkaling, Malang; atau Telaga Sarangan, Magetan. Di situ para pedagang ramai menjajakan sate kelinci.

Selain itu, daging kelinci yang rasanya gurih itu pun belakangan diolah menjadi berbagai jenis masakan. Mulai dari masakan tradisional macam rawon dan gulai. Masakan internasional juga ada, seperti kelinci goreng tepung (mirip fried chicken), kelinci BBQ (barbeque) alias kelinci panggang, dan burger daging kelinci. Kecuali bisa diolah menjadi aneka hidangan yang mengundang selera, daging kelinci pun lebih unggul ketimbang daging ayam, sapi, atau domba. Daging kelinci memiliki kandungan protein yang lebih tinggi, sementara lemak dan kolesterolnya jauh lebih rendah. Tak heran, peminat daging kelinci terus meningkat, padahal pasokannya masih jauh dari cukup. 

Alhasil, para peternak kelinci di Jawa Timur yang dihubungi KONTAN pun mengaku kewalahan memenuhi permintaan pasar. ”Saya tak mampu meladeni semua permintaan yang masuk,” ujar Budiarjo, seorang peternak kelinci dari daerah Lawang, Malang. Dari permintaan sebesar 1.000 kg sehari, ia paling kuat memasok sepersepuluhnya: 100 kg. Dari penjualan segitu, ia mengantungi omzet Rp 18 juta sebulan. Dan 60% atau Rp 10,8 juta dari omzet itu masuk ke kantungnya sebagai keuntungan. Di zaman susah begini, tak banyak bisnis yang bisa menghasilkan keuntungan sebesar ini.

Peluang pasar daging kelinci ini memang masih menganga. Keuntungannya pun sangat menantang, bisa mencapai 200%, tak kalah dibandingkan dengan usaha penggemukan sapi atau kambing. Tapi, lantaran belum banyak yang mengetahui tata cara beternak dan menggemukkan kelinci, orang yang menekuni usaha ini masih langka. Selama ini kelinci memang lebih banyak dijadikan hewan piaraan ketimbang diternakkan secara serius. Karena itulah, daging kelinci sangat sulit ditemukan di pasaran

Sumber

1 komentar:

Gestan mengatakan...

Eh, denger-denger nih akan diadakan Pameran dan Kontes Kelinci nih di Yogya. Bahasa kerennya Rabbit Contest. Temanya My Bunny's Valentine...he..he..he..numpang momen aja, bukan berarti ikut-ikutan ngerayain acara gituan...
Acaranya, akan diadakan tanggal 15 Februari 2009, di Gedung University Club (UC) UGM Yogyakarta, pukul 07.00-18.00 WIB. Insya Allah, kalau denger-denger konsepnya prof banget. Jurinya aja drh. Machmud (UGM), DR. Yono Raharjo (Balitnak Ciawi), drh. Slamet (UGM), plus pooling dari pengunjung. Nah lho...gak bakal ada kong kalikong.
Yang dilombain apa aja?
Kelas A: Angora
Kelas B: Loop
Kelas C: Dwarf dan Dutch
Kelas D: Lyon (mix)
Kelas E: Rex
Kelas F: Giant
Detilnya, gitu dulu deh. Ini soalnya cuma baca poster. Info lengkapnya hub aja panitianya di 085862005005 dan 08995063398... moga kita bisa ketemu di sana ya..di stand KPK (Komunitas Pecinta Kelinci)....CU ;)